Mengenal Al Quran

Postinganku di salah satu milis

Waalaikumsalam wr wb

Salah satu imam dari 4 mashab fiqih, dahulunya ada yang jago logika (saya lupa kalau gak salah hanafi ya CMIIW)

Tapi akhirnya ia meninggalkan cara-cara itu sebagai utama, jadi

Iman dulu baru kemudian logika, karena untuk masalah yang ghaib sulit sekali untuk dimasukkan ke logika.

Seperti ungkapan salah satu syeik dakwah tentang bayi-bayi ajaib.

Islam yang dipelajari dari pemikiran aja, dilukiskan seperti bayi yang kepalanya gedeeee banget, tapi badan, tangan dan kakinya kecil karena ruhnya kurang diberi makan dan juga amalnya tidak jalan.

Islam yang dipelajari dari ibadahnya aja, tanpa mikir (taklid buta) dan amal shaleh, seperti bayi yang badannya besaaar banget, tapi kepalanya, tangan dan kakinya kecil

karena gak mikir dan juga tidak beramal dakwah.

Yang ketiga baru ngerti islam dikit, bawaannya pingin jihad aja, ini seperti bayi yang kepalanya kecil, badannya kecil, tangan dan kakinya besar..

Jadi Islam ini baik bagi dipelajari secara syumul (menyeluruh) sehingga memiliki aqidah yang lurus, ibadah yang shohih, akhlak yang mulia, wawasan yang luas, badan yang kuat, profesional dalam amal, menghargai waktu, bermanfaat bagi orang lain, bersungguh-sungguh dan rapi untuk semua urusan serta mandiri dalam financial (10 kepribadian muslim)

Sebgai contoh untuk mempelajari Al Quran, ya jangan dilihat terjemahannya aja atau tafsirnya aja. Tapi juga dibaca atau dihafalkan dan kemudian diulang-ulang hafalannya atau mendengar murottal Al Quran minimal 1 juz per hari. Dan kemudian langsung diamalkan (jadi bayi sempurna, kepala badan tangan dan kakiknya proporsional)

Gimanapun Al Quran ini adalah Kalam Allah AWT, jadi Al Quran merupakan kata-kata Allah SWT, buka kata-kata manusia. Jadi walaupun dituliskan dalam mushab tetap saja berbeda.

Membaca Al Quran tidak sama dengan mengucapkan bahasa arab biasa, karena Al Quran langsung dari Allah SWT melalui Jibril ke Muhammad saw.

Di Al Quran dikenal membaca dengan Tartil, artinya membaca dengan Tajwid.

Tajwid ini khusus hanya untuk membaca Al Quran, seperti dengung (ghunnah), harakat (panjang pendek 2, 4, 5, 6 harakat), ra tebal maupun tipis, qolqolah (mantul), idghom, dan juga cara membaca khusus lainnya)

Seperti antum (kamu).. di dalam percakapan arab biasa, antum ya diucapkan antum. Tapi di Al Quran jadi antum dengan dengung suara di hidung 3 harokat (ketukan) ketika mengucapkan ’n’.

Jadi oleh karena itu Al Quran ini sudah fitrahnya dipelajari secara talaqi (berhadapan guru dan murid kemudian diajarkan langsung dengar suaranya dan juga bentuk mulut, letak lidah, arah aliran udara, seperti Jibril mengajarkan ke Muhammad saw (yang buta huruf), dan Muhammad saw mengajarkan ke sahabatnya ra.)

Al Quran ini diturunkan langsung ke Qalbu Muhammad saw, jadi alangkah baiknya Al Quran juga ditranfer dari ruh ke ruh, dengan talaqi dari qalbu ke qalbu, tidah hanya di-otak saja sebagai pemikiran seperti yang dilakukan para orientalis yang mempelajari Al Quran.

Sehingga sampai muncul buku ’Indahnya Pernikahan sesama Jenis’  karya mahasiwa salah satu universitas islam di Indonesia, dengan menggunakan dalil Al Quran tentang cerita Nabi Luth as yang dipelesetkan secara logika dimana Nabi Luth juga dianggap homo karena menyimpan tamu laki-laki yang tampan (malaikat) dan juga anak perempuannya yang tidak laku karena ditawarkan Nabi Luth ke kaumnya tapi ditolak, dsb.  Na’u dzubillahi min dzalik.

Dan juga Al Quran ini beribadah ketika membacanya. Tiap satu huruf dibaca beribadah dan dapat ganjarannya. Alif Lam Mim bukan satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. Sehingga walaupun kita tidak mengerti membaca Alif Lam Mim di Surat Al Baqoroh tetap berpahala.

Wallahua’lam bishowab

Reza

Leave a Reply