Archive for June, 2006

Hakikat Kemenangan dalam Hidup ini (Kemenangan Iman)

Thursday, June 15th, 2006

Peristiwa ini juga ada dalam surat Al Buruj dan cerita lengkapnya di Hadist Shahih Bukhori atau Muslim (saya lupa yang mana, saya punya kitab keduanya dan baca di salah satunya)

Di mana pada masa sebelum Rasulullah saw, ada seorang pemuda yang belajar kepada seorang penyihir dan rahib dan raja pada saat itu mengaku sebagai Tuhan. Pemuda ini lebih memilih mengikuti sang Rahib. Dengan doa pemuda ini bisa menyembuhkan penyakit, termasuk salah seorang menteri pada saat itu dengan syarat menterinya bertaubat dan pemuda itu meminta kepada Allah untuk memberikan kesembuhan pada menteri.

Raja yang heran dengan sembuhnya menteri yang buta itu bertanya bagaimana dia sembuh. Dijawab olehnya bahwa yang menyembukan adalah Tuhannya. Maka marahlah sang Raja karena ada Tuhan selainnya dan menghukum si Menteri dan dibunuhnya karena tidak mau murtad. Kemudian pemuda ini ditangkap begitu juga sang rahib. Sang rahib pun dibunuh karena tidak mau murtad. Terakhir pemuda ini dibunuh dengan melempar ke jurang, ke laut, tapi pemuda ini selamat terus, bahkan prajurit yang melemparnya yang mati.

Akhirnya pemuda itu meminta sang Raja untuk mengumpulkan seluruh penduduk dan mengikat dia kemudian memanah dengan dia dengan menyembut nama Tuhan pemuda ini. Ketika dilakukan oleh Raja, maka pemuda ini meninggal, dan penduduk yang melihat kejadian ini langsung beriman semuanya.

Raja kemudian memerintahkan menggali parit, diisi dengan kayu, dinyalakan api dan menyuruh rakyatnya yang tidak mau murtad untuk nyemplung ke parit api tersebut. Sampai pada seorang ibu dengan bayinya yang ragu-ragu nyemplung, bayinya akhirnya berbicara meyakinkan ibunya untuk nyemplung saja.

Akhirnya semua orang yang beriman meninggal semuanya.

Pelajaran yang diambil dari kisah nyata ini adalah kemenangan iman.

Dari Adam sampai sekarang, banyak model dari kemenangan iman.

1. Ada yang rakyatnya menolak keimanan, sehingga diturunkan azab yang memusnahkan mereka yang tidak beriman, seperti banjir Nuh, hujan batu Luth, Angin Puting beliung yang memusnahkan kaum Aad, Suara keras yang memusnahkan kaum Tsamud, Tenggelamnya Firaun, dsb.

2. Ada yang semua orang beriman meninggal semua, dan orang yang tidak beriman tertawa-tawa melihatnya sambil menikmati kematian orang-orang yang beriman.

3. Ada di mana yang beriman menang gilang gemilang seperti zaman Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan Rasulullah saw.

Tapi pada intinya adalah kemenangan keimanan, di mana mereka yang beriman menang walaupun tetap hidup atau mati.

Sumber: Petunjuk Jalan (Ma’alim Fit Thoriq) (Banyak dijual di toko buku belakang Masjid Salman :-) )

Mengenal Al Quran

Wednesday, June 14th, 2006

Postinganku di salah satu milis

Waalaikumsalam wr wb

Salah satu imam dari 4 mashab fiqih, dahulunya ada yang jago logika (saya lupa kalau gak salah hanafi ya CMIIW)

Tapi akhirnya ia meninggalkan cara-cara itu sebagai utama, jadi

Iman dulu baru kemudian logika, karena untuk masalah yang ghaib sulit sekali untuk dimasukkan ke logika.

Seperti ungkapan salah satu syeik dakwah tentang bayi-bayi ajaib.

Islam yang dipelajari dari pemikiran aja, dilukiskan seperti bayi yang kepalanya gedeeee banget, tapi badan, tangan dan kakinya kecil karena ruhnya kurang diberi makan dan juga amalnya tidak jalan.

Islam yang dipelajari dari ibadahnya aja, tanpa mikir (taklid buta) dan amal shaleh, seperti bayi yang badannya besaaar banget, tapi kepalanya, tangan dan kakinya kecil

karena gak mikir dan juga tidak beramal dakwah.

Yang ketiga baru ngerti islam dikit, bawaannya pingin jihad aja, ini seperti bayi yang kepalanya kecil, badannya kecil, tangan dan kakinya besar..

Jadi Islam ini baik bagi dipelajari secara syumul (menyeluruh) sehingga memiliki aqidah yang lurus, ibadah yang shohih, akhlak yang mulia, wawasan yang luas, badan yang kuat, profesional dalam amal, menghargai waktu, bermanfaat bagi orang lain, bersungguh-sungguh dan rapi untuk semua urusan serta mandiri dalam financial (10 kepribadian muslim)

Sebgai contoh untuk mempelajari Al Quran, ya jangan dilihat terjemahannya aja atau tafsirnya aja. Tapi juga dibaca atau dihafalkan dan kemudian diulang-ulang hafalannya atau mendengar murottal Al Quran minimal 1 juz per hari. Dan kemudian langsung diamalkan (jadi bayi sempurna, kepala badan tangan dan kakiknya proporsional)

Gimanapun Al Quran ini adalah Kalam Allah AWT, jadi Al Quran merupakan kata-kata Allah SWT, buka kata-kata manusia. Jadi walaupun dituliskan dalam mushab tetap saja berbeda.

Membaca Al Quran tidak sama dengan mengucapkan bahasa arab biasa, karena Al Quran langsung dari Allah SWT melalui Jibril ke Muhammad saw.

Di Al Quran dikenal membaca dengan Tartil, artinya membaca dengan Tajwid.

Tajwid ini khusus hanya untuk membaca Al Quran, seperti dengung (ghunnah), harakat (panjang pendek 2, 4, 5, 6 harakat), ra tebal maupun tipis, qolqolah (mantul), idghom, dan juga cara membaca khusus lainnya)

Seperti antum (kamu).. di dalam percakapan arab biasa, antum ya diucapkan antum. Tapi di Al Quran jadi antum dengan dengung suara di hidung 3 harokat (ketukan) ketika mengucapkan ’n’.

Jadi oleh karena itu Al Quran ini sudah fitrahnya dipelajari secara talaqi (berhadapan guru dan murid kemudian diajarkan langsung dengar suaranya dan juga bentuk mulut, letak lidah, arah aliran udara, seperti Jibril mengajarkan ke Muhammad saw (yang buta huruf), dan Muhammad saw mengajarkan ke sahabatnya ra.)

Al Quran ini diturunkan langsung ke Qalbu Muhammad saw, jadi alangkah baiknya Al Quran juga ditranfer dari ruh ke ruh, dengan talaqi dari qalbu ke qalbu, tidah hanya di-otak saja sebagai pemikiran seperti yang dilakukan para orientalis yang mempelajari Al Quran.

Sehingga sampai muncul buku ’Indahnya Pernikahan sesama Jenis’  karya mahasiwa salah satu universitas islam di Indonesia, dengan menggunakan dalil Al Quran tentang cerita Nabi Luth as yang dipelesetkan secara logika dimana Nabi Luth juga dianggap homo karena menyimpan tamu laki-laki yang tampan (malaikat) dan juga anak perempuannya yang tidak laku karena ditawarkan Nabi Luth ke kaumnya tapi ditolak, dsb.  Na’u dzubillahi min dzalik.

Dan juga Al Quran ini beribadah ketika membacanya. Tiap satu huruf dibaca beribadah dan dapat ganjarannya. Alif Lam Mim bukan satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. Sehingga walaupun kita tidak mengerti membaca Alif Lam Mim di Surat Al Baqoroh tetap berpahala.

Wallahua’lam bishowab

Reza

Qul Huwallahu Ahad

Tuesday, June 6th, 2006

Sekedar Copy Paste Postinganku di Milis Mediacare :-)

To: mediacare@yahoogroups.com
Date: Jun 5, 2006 9:50 PM
Subject: Re: [mediacare] Qul huwallahu ahad
Setahu saya di Al Quran emang Allah menggunakan Kami dan Aku.
Untuk Kami saya baru tahu 2 pendapat. Yang pertama, kami ini sebagai pengagungan dari aku. Seperti juga di bahasa arab untuk kamu (anta = kamu (laki-laki), anti = kamu (perempuan). Antum untuk kamu jamak, tapi dipakai juga untuk kamu yang sopan. Pendapat kedua, Kami dipakai karena Allah melaksanakan dengan menyuruh malaikat. Allah memerintahkan malaikat untuk membagai rezeki sesuai dengan kehendak Allah, menyuruh malaikat mencabut nyawa, meniup sangkakala, memelihara bumi. Untuk seperti ini digunakan Kami.
Tapi khusus seperti untuk Doa, digunakan Aku. Seperti ayat doa di surat Al Baqoroh ayat 186, Allah sampe menggunakan kata Aku 7 kali dalam satu ayat. Jarang banget lho. dan di bahasa Arab angka 7 juga bermaksud untuk angka yang sangat besar. Terjemahan: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang AKu, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa (hanya) kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah) - Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
Yang jelas emang di surat Al Ikhlas yang dimulai dengan Qul Huwa Allahu Ahad (Ayat yang membuat Irene masuk islam) di akhir ayat Wa lam yakun lahu kufuwan ahad diartikan dan tidak ada yang setara dengannya, atau arti lain bahwa Allah tidak satupun yang menyerupai Allah. jadi Allah itu tidak akan pernah berwujud seperti manusia. dan belum pernah ada yang pernah bertemu dengannya kecuali Muhammad saw ketika isra mi’raj, itupun masih ditutupi tabir.
Akhirnya karena itu, maka perjumpaan dengan Allah, melihat wajah Allah merupakan kenikmatan yang tertinggi yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang sholeh. Duhai, alangkah meruginya bagi mereka yang tidak akan melihat wajah penciptanya. Jadi ini yang membedakan dengan Kristen yang Tuhannya menyerupai atau berwujud manusia dan berjumpa dengan manusia. di Islam Allah itu bersemanyam di langit ke-7 di Arasy, Jadi Allah itu bukan di mana-mana, akan tetapi ada di langit ke-7, hanya saja pengetahuannya dan kekuasaannya membuat Allah lebih dekat daripada urat leher dan ada di mana-mana.
Karena Bumi ini tidak akan mampu walaupun menampung cahaya Allah (cahaya di atas cahaya). Dikisahkan Bani Israil yang ngotot minta dilihatkan Allah ke Nabi Musa as. Maka ketika baru cahaya saja yang muncul sebentar maka gunung pun meleleh sehingga mereka pingsan. Senyum bidadari pun bisa menerangi bumi ini. Jadi menjadi wujud manusia merupakan suatu kehinaan yang tidak akan dilakukan dan Allah Maha Suci dari apa yang dipersekutukan kepada-Nya.
Jadi, marilah kita menggapai kerinduan perjumpaan dengan Allah, bercengkrama dan berdialog dengan-Nya. karena itu adalah kenikmatan yang tertinggi dimana tidak semua orang kelak di akhirat bisa melihat Wajah Allah swt. Jadi seandainya di agama Kristen, maka tidak ada ada lagi kerinduan untuk melihat wajah Tuhan-Nya karena sebagian sudah berjumpa walau dalam wujud manusia, bahkan dilukiskan.
Wallahua’lam bi showab
Reza